HAL-HAL YANG WAJIB DIHINDARI AGAR ANAK DIDIK PATUH DAN SAYANG PADA GURU
WWW.INFOKEMENDIKBUD.WEB.ID –Suasana kelas yang tertib dan tenang adalah dambaan para pendidik. Namun tentu saja semua butuh proses. Tidaklah mudah membuat anak-anak patuh pada aturan kelas dan instruksi guru. Kepatuhan para siswa pun perlu dilandasi oleh semangat yang tulus, bukan karena merasa takut atau bukan karena dibuat-dibuat. Untuk menumbuhkan kepatuhan yang tulus, guru perlu memiliki beberapa pantangan, atau perlu menghindari hal-hal yang bisa mengurangi rasa hormat siswa kepada guru.
1. Menyebut anak “nakal” pada siswa yang sering melanggar aturan
Tidak ada anak yang nakal di dunia ini. Anak-anak belum memiliki banyak pengalaman dan kurang bisa menalar layaknya orang dewasa. Sesuatu yang wajar bila mereka sering melanggar aturan. Selain itu, dunia mereka adalah bermain, sehingga sesuatu yang wajar pula kalau anak-anak melakukan kesalahan dan menyakiti orang lain, saat mereka bercanda.
2. Mempermalukan anak di depan umum
Ada kalanya anak melakukan keisengan saat berada di dalam kelas. Namun sebagai pendidik, kita tidak boleh serta merta memarahi anak, menyebut namanya dengan suara keras, atau tiba-tiba melarang anak yang melakukan keisengan. Karena hal ini bisa membuat ia sangat malu, dan teman-teman lainnya pun bisa menjadi kurang respek padanya. Bagaimana pun sebagai guru kita kadang juga melakukan candaan atau menceritakan sesuatu yang lucu, agar suasana kelas lebih santai. Terkadang hal inilah yang tidak dipahami oleh pendidik.
Anak-anak melakukan candaan karena candaan adalah hal yang biasa dan boleh dilakukan, meskipun dalam level anak-anak, mereka terkadang melakukannya tidak pada saat yang tepat. Bila kita hendak mengingatkan anak didik, alangkah lebih bijaksana bila kita menggunakan suara yang lembut. Kita juga bisa mendekatinya, menyentuh bahunya, lalu membisikkan kata-kata nasihat. (baca juga: “Hindari Memarahi Anak Di Depan Umum.“)
3. Membanding-bandingkan satu siswa dengan siswa lain
Setiap anak tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagai pendidik, kita tidak boleh membanding-bandingkan satu siswa dengan siswa yang lain saat menasihati mereka. Misalnya dengan mengatakan,”Lihat si Anton, ia selalu juara 1, kalau anak lain bisa, mengapa kamu tidak?” Kata-kata ini bisa menyakiti anak ini, karena ia akan selalu berpresepsi bahwa seorang anak yang hebat harus menjadi nomor 1 dalam hal nilai pelajaran. Padahal kenyataannya adakah banyak orang berhasil saat mereka menjadi penguasaha, atlet sepak bola, dan lainnya. Bila kita sering membanding-bandingkan anak, kita akan mematikan bakat alami sang anak.
4. Tidak mau memberi salam terlebih dahulu
Bagaimana mau memberikan teladan keramahan yang baik, bila seorang pendidik merasa malu atau gengsi untuk memberi salam kepada anak-anak didiknya terlebih dahulu? Sebagai pendidik tidak ada salahnya kita memberikan salam terlebih dahulu, minimal kita kita mengatakan “Hai” sambil menyebutkan nyaman anak atau cukup tersenyum sambil menatap mereka. Percayalah, teladan keramahan kita akan memberikan efek yang baik nantinya.
5. Tidak mau mengakui kesalahan
Ada kalanya saat mengajar seorang pendidik melakukan kesalahan, misalnya salah memberikan penjelasan atau memberikan suatu teori pelajaran. Bila kita memang berbuat kesalahan, kita perlu meminta maaf kepada anak didik, bukan malah mempertahankan pendapatnya walaupun kita tahu bahwa kita salah.
6. Meragukan kemampuan anak
Sebagai pendidik kita perlu memberikan kepercayaan kepada anak didik dalam hal apa pun, tanpa memilih-milih. Kepercayaan perlu kita berikan agar anak-anak didik kita akan semakin merasa percaya diri. Bila ada anak didik yang pemalu, kita jangan malah menghindarkannya mengikuti hal-hal yang berhubungan dengan tampil di depan umum. Anak-anak pemalu justru perlu kita berikan kesempatan untuk melakukan presentasi di depan kelas, bercerita di depan kelas, dan lainnya. Dengan memberikan kepercayaan, anak-anak didik akan semakin memiliki kedekatan emosional kepada kita, karena mereka percaya kita adalah guru yang suka membimbing dan memotivasi, bukan hanya menginginkan suatu yang terlihat sempurna.
7. Berperilaku dan Berbicara Kurang Sopan
Sebagai pendidik kita perlu menjaga sikap kita, baik dalam berbicara maupun dalam perbuatan. Seorang pendidik harus cerdas dalam menjaga intonasi suara. Sehingga ia tetap memperlihatkan pribadi yang tegas dan bersemangat, namun juga memiliki jiwa yang penyayang. Hal-hal sederhana kadang bisa membuat anak-anak menjadi “ilfil”, misalnya sering duduk dengan mengangkat kaki (seperti bos), menyilangkan tangan di dada, mengangkat dagu, kurang tersenyum, wajah cemberut, dan lainnya. Terkadang pendidik tidak sadar, bila sikap anak-anak kepada kita tergantung pada perilaku kita sehari-hari.
Tidak ada kesalahan yang tidak bisa dicegah dan diperbaiki. Tidak ada kekurangan yang tidak bisa diatasi. Semua tergantung pada sikap kita. Seorang pendidik adalah seorang yang dituntun untuk menjadi sempurna di tengah ketidaksempurnaannya. Namun yang terpenting bukanlah berpikir untuk menjadi seorang yang sempurna, karena bagaimana pun kita adalah manusia biasa, namun niat hati untuk mau belajar tanpa ada hentinya.
Sumber :duniabelajaranak.id
Demikian berita dan informasi terkini yang dapat
kami sampaikan. Silahkan like fanspage dan tetap kunjungi situs kami di
WWW.INFOKEMENDIKBUD.WEB.ID, Kami senantiasa memberikan berita dan
informasi terupdate dan teraktual yang dilansir dari berbagai sumber
terpercaya. Terima Kasih atas kunjungan anda semoga informasi yang kami
sampaikan ini bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "HAL-HAL YANG WAJIB DIHINDARI AGAR ANAK DIDIK PATUH DAN SAYANG PADA GURU"
Posting Komentar